MULTIBET adalah agen bola dan agen judi online SBOBET, IBCBET, CASINO, POKER dan BOLA TANGKAS... Terima kasih telah memilih kami sebagai agen terpercaya Anda.. Kepercayaan Anda kepada kami adalah jalan utama kami untuk menjadi yang Terbaik, Terbesar dan Terpercaya.
logo
Share MeShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on TumblrShare on LinkedInEmail this to someone

Agen Bola – Perubahan Taktik Bisa Menguntungkan Manchester City – Pada Hari Tahun Baru, Manchester City berada sejajar bersama Chelsea di puncak klasemen Barclays Premier League, dengan berbagi rekor yang serupa.

Sejak itu, sang juara bertahan telah turun ke posisi keempat, dan mengejar Chelsea dengan jarak sembilan poin, setelah memainkan pertandingan lebih.

 

Agen Bola - Perubahan Taktik Bisa Menguntungkan Manchester City

 

Jelang derby Manchester Minggu ini, taktik analis Adrian Clarke mencoba untuk menemukan penjelasan dari penurunan City.

Kekalahan di udara

Sejak melepaskan keunggulan dua gol di kandang Burnley pada akhir Desember lalu, sang juara Barclays Premier League hanya mengklaim 19 poin dari kemungkinan 39. Selama periode ini mereka sama sekali tidak bertahan secara meyakinkan.

Pablo Zabaleta dan Vincent Kompany yang biasanya dapat diandalkan, telah membuat banyak kesalahan, dan sebagai sebuah tim, mereka telah kesulitan menjaga gawangnya agar tidak kebobolan.

Dalam 13 pertandingan, mereka hanya memenangkan pertandingan kandang menghadapi Newcastle United, Leicester City dan West Bromwich Albion.

Sektor kelemahan mereka yang paling jelas adalah di udara. Ketika lawan melancarkan bola tinggi menuju zona berbahaya, Manchester City tampak belum nyaman untuk mengantisipasi nya.

Alhasil, mereka kebobolan sebuah gol krusial melalui sundulan oleh Everton, dan Arsenal dari tendangan bebas yang diarahkan ke area penalti, dan selalu kewalahan dalam duel udara 50-50, yang dimanfaatkan oleh Burnley dan Crystal Palace.

Entah apakah itu terlambat menyundul, atau gagal mengantisipasi, City telah menunjukkan kelemahan di sektor ini.

Kurangnya kreatifitas

Persepsi bahwa Manchester City tidak bekerja sekeras yang mereka perlihatkan, adalah suatu kesalahan. Selama 13 pertandingan terakhir, mereka meliputi jarak tempuh dengan rata-rata 109.37km per laga, meningkat dari 108.52km pada 13 laga sebelumnya, periode ketika mereka tengah menikmati 11 kemenangan beruntun. Jumlah sprint para pemain City juga tetap konsisten dengan 494 sprint per laga.

Sulit untuk mengukurnya , namun saya yakin, ini adalah mengenai penurunan kualitas pergerakan tim yang tengah mereka alami.

Secara kesatuan mereka adalah tim yang sangat padu, namun bukannya mengejutkan lawan dengan pergerakan dan tusukan tak terduga, City tampak lebih lambat dan terlalu skematis dalam beberapa pekan terakhir. Mendobrak pertahanan para saingan mereka telah terbukti menjadi lebih sulit lagi.

Menjaga penguasaan bola bukanlah masalah bagi skuad Manuel Pellegrini. Dalam delapan laga, mereka selalu kehilangan poin sejak 28 Desember, City memiliki rata-rata penguasaan bola yang menakjubkan dengan 64.98%. Dominasi tersebut telah gagal untuk membawa hasil yang positif karena mereka terlihat terlalu berat mengalirkan bola, dan gagal menuju ke belakang pertahanan lawan sesering yang seharusnya mereka lakukan.

Pilihan skuad Pellegrini mungkin telah berandil besar dalam kurangnya permainan imajinatif.

Statistik dari empat pemain paling kreatif mereka musim ini (lihat Tabel di bawah) belum terlihat menonjol dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan Jesus Navas adalah satu-satunya dari empat pemain tersebut, yang menjadi starter lebih dari satu pertandingan dalam lima pertemuan Barclays Premier League terakhir. Sang manajer perlu mengambil keberanian untuk pilihan pemain inti nya, atau berpikir untuk mencoba memberikan James Milner, Samir Nasri, dan Stevan Jovetic lebih banyak jam terbang.

Empat pemain paling kreatif Man City musim ini

James Milner 1305 menit; 6 assist; 217.5 assist/menit

Samir Nasri 1533; 6; 255.5

Stevan Jovetic 787; 3; 262.3

Jesus Navas 1942; 7; 277.4

Kehilangan sentuhan magis

City sangat kehilangan Yaya Toure saat ia mengikuti Africa Cup of Nations, mereka mengklaim hanya satu kemenangan dan tiga kali seri dari lima pertandingan selama dia absen. Di tengah-tengah kesuksesan (enam gol dalam delapan laga sebagai starter) sebelum pergi untuk bergabung bersama negaranya, City secara signifikan menjadi kurang menakutkan saat Toure tidak ada.

Sementara periode tersebut memainkan peranan besar dalam penurunan mereka, secara keseluruhan, kontibusi Toure di area pertahanan lawan telah menurun drastis dibandingkan dengan penampilannya di musim 2013/14. Ini setidaknya menjelaskan sebagian, dari pertanyaan mengapa sang juara bertahan tidak bisa lagi mencapai 86-poin, seperti yang mereka raih musim lalu.

Menurut data (lihat di bawah), musim ini bintang City asal Pantai Gading tersebut telah berlari lebih banyak dan berada sering di depan, namun sentuhan magis yang ia berikan secara konsisten dalam perjalanan meraih gelar di musim lalu telah memudar.

Tanpa penyelesaian klinis atau passing-passing berbahaya dari sang gelandang gaek berusia 31 tahun tersebut, City memang tidak banyak mencetak gol.

Yaya Toure di BPL: 2013/2014 v 2014/2015

Jarak yang ditempuh/pertandingan (km) 2013/14: 9.89; 2014/2015: 10.05

Passing per menit di pertahanan lawan: 3.76; 2.72

Peluang diciptakan per menit: 73.2; 72.7

Tembakan per menit: 58.5; 35.1

Akurasi Tembakan %: 54.0%; 41.1%

Tingkat-konversi tembakan: 40.0%; 14.3%

Gol per menit: 146.4; 245.5

Assist: 9; 1

Kekhawatiran dalam formasi

Haruskah Pellegrini bertahan dengan keinginannya untuk tetap memainkan formasi 4-4-2, atau sistem tersebut justru yang kurang produktif? Untuk beberapa alasan tertentu saya lebih condong ke arah yang terakhir.

Dari kacamata defensif, hal ini tidak memberikan pertahanan yang aman. Setiap kali Toure berusaha maju, Fernandinho ataupun Fernando dibiarkan sendiri untuk menjaga sektor tengah. Jika melawan tim berkelas, ini jelas terlalu terbuka. Kecuali jika James Milner bermain lebih sebagai pemain sayap bertahan, jika tidak ini hanya menempatkan terlalu banyak beban pada pemain yang berada di lapangan tengah.

Sama halnya dengan David Silva yang bukanlah tipe pemain sayap yang tetap di sisi kiri, sehingga ini menciptakan efek berat sebelah yang juga menempatkan tekanan yang amat besar bagi pemain bek kiri. Para lawan sudah mulai untuk menargetkan sektor tersebut musim ini.

Manchester City telah menghasilkan beberapa performa terbaik mereka di tandang ketika menggunakan tiga pemain di lini tengah. Penampilan mengesankan seperti saat bertandang di Stoke City, West Bromwich Albion, Chelsea, dan ketika pada babak kedua saat menghadapi Southampton, yang menampilkan keseimbangan, baik dalam ataupun tanpa penguasaan bola.

Formasi macam 4-2-3-1 juga tampaknya mengeluarkan kemampuan dari para pemain pendobrak tim Pellegrini, seperti David Silva dan Sergio Aguero.

Posisi terbaik?

David Silva (2014/15)

Gol sebagai pemain sayap – 5

Gol sebagai pemain No 10 – 6

Sergio Aguero (2014/15)

Gol dengan duet – 6

Gol sebagai striker tunggal – 11

Disaat Aguero dapat bertandem dengan salah satu penyerang handal seperti Edin Dzeko, Jovetic atau Wilfried Bony, catatan rekornya di musim 2014/15 justru menunjukkan ia lebih produktif ketika memimpin barisan depan seorang diri.

Pemain Argentina itu memiliki kecenderungan untuk lebih telat maju ketika dipadukan dengan striker lain, dan penetrasinya untuk muncul di belakang para markernya, terlihat lebih jarang ketika tandem depan lainnya ikut berkerumun di sektor depan. Dalam beberapa kesempatan di musim ini, setelah rekan strikernya digantikan dengan pemain gelandang, dampak pada permainan tim telah meningkat.

Aguero belum mencetak gol dari situasi serangan terbuka sejak dua golnya melawan Stoke City pada tanggal 11 Februari, dan di semua enam pertandingan berikutnya di liga, ia telah menjadi starter dalam formasi 4-4-2. Ini menjadi argumen kuat yang menganjurkan bahwa sistem ini tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya, ataupun timnya.

Kata penutup

Manchester City masih merupakan skuad yang sangat kuat, tetapi tidak ada yang menyangkal bahwa ketajaman, kesatuan serta ketahanan yang mereka perlihatkan di musim lalu semakin memudar dalam beberapa bulan terakhir. Terlalu banyak kesalahan yang telah merembet ke dalam gaya bermain mereka, ditambah dari segi kekuatan serang, telah terjadi penurunan dalam hal produktivitas.

Sang juara bertahan, telah merasakan empat kemenangan derby beruntun secara berturut-turut melawan Manchester United tetapi jika mereka tidak membuat satu atau dua perubahan dalam taktik mereka, atau bertahan dengan lebih berhati-hati dan konsentrasi, kemenangan beruntun tersebut bisa terhenti di akhir akhir pekan ini.

Manchester United vs Manchester City akan disiarkan langsung di TV pukul 22:00 WIB